Pasangan
yang menikah pada usia muda rentan mengalami perceraian. Ada beberapa faktor utama
yang menyebabkannya. Ini ulasannya.
Idealnya, pernikahan dilakukan sekali seumur hidup. Itulah
sebabnya, memilih pasangan hidup yang tepat sangat penting. Pasangan yang tepat
tidak berarti harus sempurna. Namun, sebuah pernikahan akan dapat bertahan
hanya apabila seseorang bisa menerima ketidaksempurnaan pasangannya.
Untuk menyikapi ketidaksempurnaan dalam suatu relasi
dibutuhkan kedewasaan. Kedewasaan memang sering kali tidak ada hubungannya
dengan usia. Namun, ketika usia bertambah, seseorang seharusnya semakin dewasa
dan kualitasnya lebih matang.
KONDISI PERNIKAHAN JIKA
PASANGAN TIDAK DEWASA
Sebuah pernikahan dapat menjadi surga, dapat juga menjadi
sebaliknya. Hal ini tergantung pada bagaimana pasangan menjaga pernikahan
tersebut. Hal-hal yang sering kali memicu konflik adalah sikap kekanak-kanakan pasangan. Masalah yang kecil tidak segera diselesaikan dengan baik, tetapi dibiarkan hingga menjadi besar.
Pasangan yang tidak dewasa juga biasanya mengambil
keputusan-keputusan yang tidak tepat. Bahkan, keputusan tersebut cenderung
berdasarkan kebutuhan diri sendiri, bukan kebutuhan bersama. Sikap egoisme
seperti ini adalah bibit konflik dalam sebuah hubungan. Jika tidak segera
dipupus, egoisme dapat memicu perceraian.
Kedewasaan timbul melalui proses. Ada juga pasangan muda
yang dapat bertahan melewati badai pernikahan karena berhasil melewati proses
yang berat. Namun, proses hanya membuahkan hasil apabila masing-masing
berkomitmen untuk melakukan itu.
APAKAH PENGHASILAN
CUKUP?
Anak-anak muda zaman sekarang memiliki kesempatan yang lebih
besar untuk mendapatkan penghasilan. Teknologi yang semakin berkembang tak bisa
dimungkiri telah menciptakan banyak peluang. Orang-orang yang cerdas akan
menangkap peluang tersebut untuk memperbaiki kualitas hidupnya.
Akan tetapi, ada pula di antaranya yang belum dapat mandiri
secara finansial. Ini sebenarnya merupakan hal yang wajar. Bagaimanapun,
diperlukan proses yang cukup panjang hingga sebuah usaha membuahkan hasil yang
optimal dan dapat dinikmati.
Masalahnya, meskipun kondisi finansial belum mapan,
pernikahan tetap nekat dilanjutkan. Ini adalah keputusan yang tidak bijak. Rumah
tangga yang baru dibangun tersebut bisa jadi akan sangat rentan karena pasangan
harus bergantung pada orang lain dari segi ekonomi.
Perlu disadari, masalah keuangan kerap menjadi penyebab
konflik paling besar dalam rumah tangga. Oleh karena itu, pasangan, baik
laki-laki dan perempuan terlebih dahulu perlu menyepakati dan mempersiapkan
diri secara finansial untuk memenuhi kebutuhan bersama setelah pernikahan
berlangsung.
BERSEDIA MENGEJAR MIMPI
BERSAMA
Pernikahan yang baik hanya dapat terwujud apabila masing-masing
pasangan berusaha keras untuk itu. Keduanya harus berkomitmen untuk mengejar
mimpi bersama. Masalahnya, karena usia yang masih muda, kadang kala mimpi yang
ingin dikejar belum benar-benar diyakini. Bahkan, ada pula yang ingin mengejar
mimpinya sendiri dan mengabaikan pasangan.
Masa muda memang waktunya untuk mengejar cita-cita. Hasilnya
pasti akan lebih optimal karena seseorang lebih fokus dan memiliki banyak
energi yang bisa dicurahkan untuk mengejar mimpi tersebut. Berbeda ketika sudah
menikah, tentu ada banyak pertimbangan yang harus dipikirkan sebelum memutuskan
melakukan suatu keinginan pribadi.
Apabila seseorang belum siap mengorbankan cita-cita diri
sendiri untuk mencapai cita-cita bersama dalam keluarga, masalah kerap muncul.
Hal inilah yang menyebabkan timbulnya konflik dan berujung pada perceraian.
Banyak pasangan muda akhirnya mencari jasa pengacara perceraian untuk
menyelesaikan masalah keluarga yang dihadapi. Salah satunya, pengacara perceraian Tangerang bagi yang berdomisili di daerah tersebut.
Ingin mengajukan pertanyaan mengenai hukum keluarga? Jangan sungkan untuk menghubungi kantorpengacara.co melalui telepon +62 812 9797 0522 atau email info@kantorpengacara.co. Kami siap membantu Anda dengan sepenuh hati.
Komentar
Posting Komentar